Learn, Connect, Growth | Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Indonesia

agenda

Pelatihan Manajemen Mutu Penyusunan, Implementasi, dan Evaluasi Clinical Pathways (CP)

diselenggarakan oleh
Divisi Manajemen Mutu Pusat Kebijakan & Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM

Rabu, 22 April 2026

 

  Latar Belakang

Berbagai hambatan masih ditemukan dalam penyusunan, implementasi, dan evaluasi Clinical Pathways, seperti keterbatasan pemahaman konsep CP, kurangnya keterlibatan tim multidisiplin, serta lemahnya mekanisme pemantauan dan evaluasi. Akibatnya, CP sering hanya berfungsi sebagai dokumen administratif dan belum berperan efektif dalam pengendalian mutu dan biaya pelayanan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas dan sistem agar Clinical Pathways dapat diterapkan secara optimal.

Tujuan

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan serta pengelola mutu dalam penyusunan, implementasi, dan evaluasi Clinical Pathways (CP) sebagai  instrumen  manajemen  mutu  yang efektif untuk mendukung peningkatan mutu, keselamatan pasien, dan efisiensi biaya pelayanan kesehatan.

  Materi
  1. Konsep Clinical Pathways
  2. Cara menyusun Clinical Pathways
  3. Strategi implementasi Clinical Pathways
  4. Cara evaluasi Clinical Pathways
  5. Praktek menyusun Clinical Pathways
  Sasaran Peserta
  1. Manajerial di Rumah Sakit,
  2. Tim casemix,
  3. Profesional Pemberi Asuhan,
  4. Tim Kendali Mutu Kendali Biaya,
  5. Komite medis, Komite mutu, Komite Keperawatan, Komite Nakes lainnya,
  6. Peneliti, Dosen, Mahasiswa, dan pihak yang tertarik.
  Narasumber
  1. Dr. dr. Hanevi Djasri MARS, FISQua (Narasumber)
  2. Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH, CQIPS (Fasilitator)
  Biaya dan Fasilitas

Biaya pendaftaran pelatihan ini adalah Rp 400.000,-

Pembayaran peserta dapat dilakukan dengan melalui transfer ke rekening panitia dengan Kode Unik 09, contoh Rp. 400.009. No. Rekening sebagai berikut:
No Rekening : 9888807171130003
Nama Pemilik : Online Course/ Blended Learning FK UGM
Nama Bank : BNI
Alamat : Jalan Persatuan, Bulaksumur Yogyakarta 55281

Catatan: pembayaran yang dilakukan dari beda Bank BNI, mohon bisa menggunakan biaya transfer online sebesar Rp. 6.500,- tidak bisa menggunakan biaya BI Fast sebesar Rp. 2.500,-

Fasilitas yang akan didapatkan peserta:

  1. Sertifikat
  2. Materi dalam bentuk .pdf
  3. Rekaman

Tempat dan Waktu

Hari, tanggal : Rabu, 22 April 2026
Pukul : 09.00 - 13.00 WIB
tempat : Online melalui zoom meeting

Agenda

Waktu Kegiatan Narasumber/Fasilitator
09.00 – 09.15

Pembukaan:
Pengantar kegiatan, perkenalan, pembacaan tata tertib kegiatan

Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH, CQIPS
09.15 - 10.00

Konsep Clinical Pathways 

Dr. dr. Hanevi Djasri MARS, FISQua

10.00 - 11.00
  • Cara menyusun Clinical Pathways
  • Strategi implementasi Clinical Pathways
  • Cara evaluasi Clinical Pathways

Dr. dr. Hanevi Djasri MARS, FISQua

11.00 - 12.00 Praktek menyusun Clinical Pathways

Dr. dr. Hanevi Djasri MARS, FISQua

12.00 - 12.45 Sesi Diskusi Tanya Jawab Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH, CQIPS
12.45 - 13.00 Penutupan Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH, CQIPS

 

  Narahubung

Eva Tirtabayu Hasri / 0823-2433-2525

 

 

Pelatihan Manajemen Mutu pada Puskesmas Pedesaan dan Peningkatan Kompetensi Kader oleh Puskesmas

diselenggarakan oleh
Divisi Manajemen Mutu Pusat Kebijakan & Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM

Senin-Selasa, 30-31 Maret 2026

 

  Latar Belakang

Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama memiliki peran strategis dalam upaya promotif dan preventif, khususnya di wilayah pedesaan yang memiliki keterbatasan akses, sumber daya manusia, sarana prasarana, serta dukungan sistem rujukan. Dalam konteks transformasi layanan kesehatan primer, penguatan manajemen mutu menjadi kunci untuk memastikan pelayanan yang aman, efektif, berpusat pada pasien, serta berkelanjutan. Puskesmas pedesaan sering menghadapi tantangan berupa variasi kompetensi tenaga kesehatan, beban kerja yang tinggi, sistem pencatatan dan pelaporan yang belum optimal, serta keterbatasan pemanfaatan data untuk perbaikan mutu berkelanjutan. Selain itu, keberhasilan pelayanan kesehatan primer sangat bergantung pada peran serta masyarakat melalui kader kesehatan sebagai perpanjangan tangan Puskesmas di tingkat komunitas.

Kader memiliki peran penting dalam deteksi dini masalah kesehatan, edukasi masyarakat, pemantauan kelompok risiko, serta dukungan terhadap program prioritas seperti kesehatan ibu dan anak, gizi, pengendalian penyakit tidak menular, dan surveilans berbasis masyarakat. Namun, kapasitas kader seringkali belum diperkuat secara sistematis, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan komunikasi, pencatatan, maupun pemahaman alur rujukan.

Oleh karena itu, diperlukan kegiatan pelatihan yang terintegrasi antara penguatan manajemen mutu Puskesmas dan peningkatan kompetensi kader. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan sinergi antara peningkatan mutu internal fasilitas dengan penguatan peran masyarakat, sehingga terjadi perbaikan kualitas layanan yang menyeluruh dari fasilitas hingga komunitas.

Tujuan

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas Puskesmas pedesaan dalam menerapkan manajemen mutu layanan kesehatan serta memperkuat kompetensi kader kesehatan dalam mendukung pelayanan kesehatan primer berbasis masyarakat.

Tujuan Khusus

  • Meningkatkan pemahaman tenaga Puskesmas tentang konsep dan prinsip manajemen mutu pelayanan kesehatan.
  • Meningkatkan kemampuan Puskesmas dalam menggunakan data untuk perencanaan, pemantauan, dan perbaikan mutu berkelanjutan.
  • Memperkuat penerapan keselamatan pasien dan manajemen risiko di Puskesmas.
  • Meningkatkan kompetensi kader dalam promosi kesehatan, deteksi dini masalah kesehatan, dan pencatatan pelaporan sederhana.
  • Meningkatkan koordinasi antara Puskesmas dan kader dalam pelaksanaan program kesehatan prioritas yang bermutu.
  Sasaran Peserta
  1. Kepala Puskesmas.
  2. Penanggung jawab mutu Puskesmas.
  3. Penanggung jawab Klaster 1, 2, 3, 4, dan 5
  4. Tenaga Pelayanan Puskesmas
  5. Kader kesehatan desa/kelurahan binaan Puskesmas.
Output
  1. Peningkatan pemahaman tenaga Puskesmas tentang manajemen mutu.
  2. Tersusunnya rencana tindak lanjut perbaikan mutu di Puskesmas.
  3. Meningkatnya kompetensi kader dalam pelaksanaan tugas di masyarakat.
  4. Terbentuknya mekanisme koordinasi yang lebih baik antara Puskesmas dan kader.
Materi Pelatihan

Materi Manajemen Mutu untuk Puskesmas

  1. Konsep dasar mutu pelayanan kesehatan di layanan primer.
  2. Siklus peningkatan mutu berkelanjutan (Plan-Do-Study-Act / PDSA).
  3. Penggunaan data dan indikator kinerja Puskesmas.
  4. Keselamatan pasien dan manajemen risiko di Puskesmas.
  5. Penyusunan rencana tindak lanjut perbaikan mutu.

Materi Peningkatan Kompetensi Kader

  1. Peran dan fungsi kader dalam pelayanan kesehatan primer.
  2. Komunikasi efektif dan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
  3. Deteksi dini masalah kesehatan ibu, anak, gizi, dan PTM.
  4. Pencatatan dan pelaporan sederhana oleh kader.
  5. Alur rujukan dari masyarakat ke Puskesmas.
  6. Kolaborasi kader dan Puskesmas dalam kegiatan lapangan.
Narasumber
  • dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, Dr.PH, FISQua
  • Andriani Yulianti, MPH
  • dr. Karyadi
  Biaya dan Fasilitas

Biaya pendaftaran pelatihan ini adalah Rp 950.010,00

Link pendaftaran

Pembayaran peserta dapat dilakukan dengan melalui transfer ke rekening panitia dengan Kode Unik 09, contoh Rp. 400.009. No. Rekening sebagai berikut:
No Rekening : 9888807171130003
Nama Pemilik : Online Course/ Blended Learning FK UGM
Nama Bank : BNI
Alamat : Jalan Persatuan, Bulaksumur Yogyakarta 55281

Catatan: pembayaran yang dilakukan dari beda Bank BNI, mohon bisa menggunakan biaya transfer online sebesar Rp. 6.500,- tidak bisa menggunakan biaya BI Fast sebesar Rp. 2.500,-

Fasilitas
  1. Materi pelatihan (modul dalam bentuk PPT & template yang digunakan dalam praktikum) dalam bentuk soft file yang dapat di unduh di website
  2. Sertifikat kepesertaan dalam bentuk soft file
Tempat dan Waktu

Hari, tanggal : Senin - Selasa, 30 - 31 Maret 2026
tempat : Online melalui zoom meeting

Agenda

Waktu Kegiatan Hari I Fasilitator/Narasumber
08.00 – 08.30 Registrasi peserta Panitia
08.30 – 09.00 Pembukaan dan pengantar kegiatan MC
09.00 – 10.30 Konsep dasar manajemen mutu di Puskesmas

dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, Dr.PH, FISQua

10.30 – 10.45 Istirahat -
10.45 – 12.00 Siklus PDSA dan penggunaan data mutu

dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, Dr.PH, FISQua

12.00 – 13.00 Istirahat siang -
13.00 – 14.30 Keselamatan pasien dan manajemen risiko Andriani Yulianti, MPH
14.30 – 15.30 Diskusi kasus mutu di Puskesmas Andriani Yulianti, MPH
15.30 – 16.00 Refleksi hari pertama Andriani Yulianti, MPH
Waktu Kegiatan Hari II Fasilitator/Narasumber
08.00 – 09.00 Peran kader dalam pelayanan kesehatan primer dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, Dr.PH, FISQua
09.00 – 10.30 Edukasi kesehatan dan komunikasi efektif

dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, Dr.PH, FISQua

10.30 – 10.45 Istirahat -
10.45 – 12.00 Deteksi dini dan pencatatan pelaporan kader

dr. Karyadi

12.00 – 13.00 Istirahat siang -
13.00 – 14.30 Studi kasus: simulasi kolaborasi kader dan Puskesmas dr. Karyadi
14.30 – 15.30 Penyusunan rencana tindak lanjut Andriani Yulianti, MPH
15.30 – 16.00 Evaluasi dan penutupan Andriani Yulianti, MPH
  Narahubung

Andriani Yulianti / 081328003119
Email This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

Webinar Mutu Corner 1:
Belajar dari Expert, Bergerak untuk Perbaikan Mutu
“Apakah Mutu hanya sekedar konsep atau cara kerja?”

diselenggarakan oleh
Divisi Manajemen Mutu Pusat Kebijakan & Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM

Kamis, 26 Februari 2026

 

  Latar Belakang

Mutu pelayanan kesehatan merupakan isu strategis yang terus berkembang seiring dengan meningkatnya tuntutan keselamatan pasien, efektivitas layanan, pengalaman pasien, serta keberlanjutan sistem kesehatan. Dalam praktiknya, mutu seringkali dipahami sebagai konsep normatif atau kewajiban administratif, misalnya melalui akreditasi, pelaporan indikator, atau pemenuhan regulasi. Namun, tantangan utama yang masih sering dihadapi adalah bagaimana mutu diterjemahkan menjadi cara kerja nyata yang terintegrasi dalam praktik sehari-hari oleh tenaga kesehatan dan manajemen fasilitas pelayanan kesehatan.

Berbagai inisiatif peningkatan mutu kerap belum menghasilkan perubahan yang bermakna karena terbatas pada pengetahuan konseptual, kurangnya pembelajaran dari praktik baik, serta minimnya ruang diskusi reflektif lintas peran dan disiplin. Oleh karena itu, dibutuhkan forum pembelajaran yang bersifat dialogis, aplikatif, dan inspiratif, yang memungkinkan peserta belajar langsung dari para expert sekaligus mengaitkannya dengan konteks kerja masing-masing. Mutu Corner dirancang sebagai ruang belajar bersama yang berkelanjutan untuk mendiskusikan isu-isu mutu secara kritis dan praktis. Pada seri pertama ini, tema “Apakah Mutu hanya sekedar konsep atau cara kerja?” diangkat untuk mendorong perubahan perspektif peserta bahwa mutu bukan hanya sesuatu yang dipahami, tetapi juga dijalankan secara konsisten, terukur, dan berdampak pada perbaikan layanan.

Tujuan

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman dan komitmen peserta dalam mengimplementasikan mutu sebagai cara kerja nyata dalam pelayanan kesehatan melalui pembelajaran dari para expert.

Tujuan Khusus

  • Mengkaji kembali konsep mutu pelayanan kesehatan dan relevansinya dengan praktik sehari-hari.
  • Memahami pengalaman dan pembelajaran praktis dari expert dalam implementasi perbaikan mutu.
  • Mengidentifikasi tantangan dan peluang penerapan mutu sebagai budaya dan sistem kerja.
  • Mendorong peserta untuk merefleksikan dan merancang langkah awal perbaikan mutu di unit atau institusi masing-masing.
  Sasaran Peserta
  1. Pengelola sarana pelayanan kesehatan: Direktur/Manajer/Ketua Komite Mutu/Kepala Instansi/Kepala Unit RS, Kepala Puskesmas, Pimpinan Balai Kesehatan, serta Pimpinan Klinik dan sarana pelayanan kesehatan lainnya.
  2. Regulator: Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, Organisasi Profesi, Lembaga Asuransi/Pembiayaan Kesehatan (BPJS Kesehatan, Asuransi Kesehatan Swasta/Perusahaan), Lembaga Akreditasi Fasyankes, LSM Bidang Kesehatan, dan sebagainya.
  3. Klinisi: Dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan lainnya.
  4. Mahasiswa: S1, S2, Pendidikan dokter spesialis, S3.
  5. Pemerhati mutu pelayanan kesehatan: Perguruan tinggi, Peneliti, Konsultan.
  Biaya dan Fasilitas

Biaya pendaftaran pelatihan ini adalah Rp 50.010,00

Pembayaran peserta dapat dilakukan dengan melalui transfer ke rekening panitia dengan Kode Unik 09, contoh Rp. 400.009. No. Rekening sebagai berikut:

No Rekening : 9888807171130003
Nama Pemilik : Online Course/ Blended Learning FK UGM
Nama Bank : BNI
Alamat : Jalan Persatuan, Bulaksumur Yogyakarta 55281

Catatan: pembayaran yang dilakukan dari beda Bank BNI, mohon bisa menggunakan biaya transfer online sebesar Rp. 6.500,- tidak bisa menggunakan biaya BI Fast sebesar Rp. 2.500,-

Tempat dan Waktu

Hari, tanggal : Kamis, 26 Februari 2026
Pukul : 13.00 - 15.00 WIB
tempat : Online melalui zoom meeting

Agenda

Waktu (WIB) Agenda Narasumber
12.45 - 13.00 Registrasi Peserta Panitia
13.00 - 13.15 Pembukaan MC/Moderator: Andriani Yulianti, MPH
13.15 - 14.15 “Apakah mutu hanya sekedar konsep atau cara kerja? dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP
14.15 - 14.45 Sesi Diskusi Tanya Jawab Andriani Yulianti, MPH
14.45 - 15.00 Penutup Andriani Yulianti, MPH
  Narahubung

Sdri. Qonita (085117448499)

 

  Reportase Kegiatan

26feb2

Divisi Manajemen Mutu Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menyelenggarakan sesi perdana Mutu Corner bertajuk “Apakah Mutu Hanya Sekadar Konsep atau Cara Kerja?”. Webinar ini menghadirkan dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Andriani Yulianti, MPH. Kegiatan ini menjadi awal dari rangkaian diskusi serial yang dirancang sebagai ruang refleksi kritis dan praktis untuk mendorong implementasi mutu pelayanan kesehatan secara berkelanjutan.

Dalam pengantar kegiatan disampaikan bahwa mutu sering kali dipahami sebatas kelengkapan dokumen, pemenuhan indikator, dan persiapan akreditasi. Banyak fasilitas kesehatan memiliki visi, misi, pedoman, dan standar prosedur yang lengkap, bahkan meraih predikat paripurna. Namun, pertanyaan mendasarnya terletak pada apakah mutu tersebut benar-benar hidup dalam praktik sehari-hari. Kerangka reflektif inilah yang menjadi benang merah diskusi sepanjang webinar.

dr. Tjahjono memaparkan bahwa mutu bukan sekadar konsep normatif, melainkan harus terwujud dalam cara bekerja dan berperilaku. Ia menelusuri perkembangan konsep mutu dari pendekatan klasik para tokoh manajemen mutu hingga sistem manajemen mutu modern di layanan kesehatan. Mutu yang sejati, menurutnya, tampak pada aktivitas harian yang terstandar, terukur, dan terus diperbaiki melalui siklus perbaikan berkelanjutan.

Pembahasan kemudian mengarah pada manajemen risiko dan keselamatan pasien sebagai fondasi penting dalam sistem mutu. Identifikasi risiko, penyusunan register risiko, pelaporan insiden keselamatan pasien, serta analisis indikator mutu harus dilakukan secara konsisten dan jujur. Ia menyoroti fenomena umum di lapangan, yakni meningkatnya kepatuhan menjelang akreditasi, namun menurun setelah proses survei selesai. Kondisi ini menunjukkan bahwa mutu belum sepenuhnya menjadi budaya organisasi.

Diskusi berlangsung interaktif ketika peserta berbagi pengalaman dari institusi masing-masing. Beberapa peserta mengungkapkan tantangan menjaga konsistensi pelaporan insiden keselamatan pasien dan tindak lanjut indikator mutu. Ada pula yang menyoroti keterbatasan sumber daya serta resistensi perubahan perilaku di kalangan staf. Menanggapi hal tersebut, dr. Tjahjono menekankan pentingnya kepemimpinan yang berkomitmen dan konsisten. Transformasi mutu membutuhkan keteladanan pimpinan, alokasi sumber daya yang memadai, serta monitoring yang terintegrasi dalam kegiatan pelayanan sehari-hari.

Selain itu, narasumber menyoroti perkembangan mutu di era digital. Digitalisasi dan pemanfaatan teknologi informasi memungkinkan pengukuran luaran klinis dan pengalaman pasien secara lebih sistematis. Pendekatan patient centered care dan kemitraan antara tenaga kesehatan dan pasien dipandang sebagai arah masa depan pelayanan kesehatan. Mutu tidak lagi sekadar tentang kepatuhan terhadap standar, tetapi tentang bagaimana pasien merasakan proses pelayanan dan memperoleh luaran yang bermakna bagi kualitas hidupnya.

Pada bagian penutup, dr. Tjahjono menegaskan bahwa mutu harus menjadi kebiasaan yang dilakukan secara otomatis oleh seluruh staf. Mutu bukan hanya cara berpikir, melainkan cara bekerja yang terinternalisasi dalam budaya organisasi. Ketika pengukuran dilakukan secara konsisten, data dianalisis secara reflektif, dan perbaikan dijalankan terus-menerus, mutu akan bertransformasi dari sekadar konsep menjadi praktik nyata yang dirasakan manfaatnya oleh pasien.

Reporter:
dr. Helen Anggraini Budiono

 

 

Pembicara I: Manajemen Mutu Upaya Kesehatan Masyarakat Terkait COVID-19 oleh dr. Siti Marlina, MSc
(Kepala Puskesmas Bantul 2 dan Sekretaris Forum Komunikasi Puskesmas DIY)

Siti Marlina menyatakan bahwa dalam kondisi pandemi, Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) harus tetap dilaksanakan dengan memperhatikan skala prioritas, kondisi psikologis masyarakat, dan zonasi wilayah terkait COVID-19. Pandemi COVID-19 menjadi tantangan untuk puskesmas dalam mempertahankan mutu pelayanan baik UKM maupun UKP.

Hal ini penyebabkan penyesuaian tahapan manajemen puskesmas baik di perencanaan (P1), pergerakan dan pelaksanaan (P2) maupun pengawasan, pengendalian, dan penilaian kinerja puskesmas (P3). Pada kegiatan UKM, ada tiga opsi yang dilakukan 1) tunda kegiatan atau tidak bisa dilaksanakan; 2) melaksanakan kegiatan dengan metode berbeda; dan 3) dilakukan dengan menerapkan kaidah PPI dan physical distancing. Hal ini membutuhkan dukungan dinas kesehatan dan pemerintah daerah agar puskesmas dapat melakukan kegiatan UKM.

Kualitas mutu UKM di masa pandemi dapat dilihat pada sisi input, proses dan output.

  1. Di sisi Input yaitu 1) SDMK, selama masa pandemi petugas puskesmas terbagi atas 2 tim untuk menjaga kontinuitas pelayanan. COVID-19 adalah sesuatu yang baru untuk tenaga kesehatan sehingga harus update setiap saat; 2) Anggaran kesehatan, kegiatan UKM menggunakan Dana BOK dan Dana desa namun membutuhkan fleksibilitas penggunaan anggaran untuk mendukung penanganan COVID-19; 3) Regulasi, puskesmas melakukan perubahan SOP untuk pelaksanaan kegiatan penanganan COVID-19 dan meredesign tempat pelayanan sesuai kaidah PPI dan Physical distancing.
  2. Dari sisi proses, puskesmas selalu mengikuti standar penanganan COVID-19 yaitu melakukan pembatasan kegiatan tatap muka guna mengurangi penularan COVID-19, mengutamakan kebutuhan sasaran. Pada kegiatan UKM tetap mengutamakan keselamatan sasaran dan petugas dengan safety briefing protokol kesehatan. Selain itu kegiatan UKM dilaksanakan dengan metode lain seperti penggunaan google form, edukasi melalui media sosial dan pertemuan daring. Hambatan dalam proses adalah kondisi psikologis masyarakat yang masih takut, penambahan kasus positif COVID-19, zonasi wilayah COVID-19, dan keterbatasan masyarakat menggunakan teknologi.
  3. Dari sisi output, umpan balik kegiatan dari sasaran yang menjadi evaluasi untuk melakukan kegiatan berikutnya. Target indikator mutu (SPM) menjadi tidak tercapai. Program essensial dan pengembagan dilakukan dengan protokol kesehatan. Harapan dan strategi menangani COVID-19 yaitu melakukan pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan COVID-19, flexibilitas penggunaan anggaran BOK untuk tahun 2021 khususnya pembelian APD untuk kegiatan surveilans, Monev pelaksanaan kegiatan, dan regulasi yang mendukung kegiatan UKM.

Pembicara II: Pengalaman Redesign Pelayanan dan Fisik RS Menghadapi Tantangan COVID-19
oleh dr. Rukmono Siswishanto, M.Kes., Sp.OG (Dirut- RSUP Dr Sardjito)

Rukmono menyampaikan bahwa perubahan harus bisa di-sense dan dilakukan response. Pada Masa Adaptasi Kebiasan Baru (Masa Baru) terjadi pengorganisasian yang harus berubah, informasi harus cepat, tim bekerja cross functional team, bekerja harus fleksibel. Rumah sakit juga dituntut untuk memberikan pelayanan yang cepat, customer ingin direspon dengan cepat, pelayanan lebih efisien, dan kepuasan pelanggan yang dituntut. Rumah Sakit merespon kebutuhan pelayanan dengan melakukan kolaborasi dengan rumah sakit lain, melakukan penyesuain pelayanan untuk kelompok rentan, dan dukungan bagi seluruh pekerja di Rumah Sakit. Kondisi ini menuntut Rumah sakit menerapkan 4 R yaitu Re-bounding, Reimagining, Responding, dan Rebuild.

RSUP Sardjito Memulihkan pelayanan di Masa Baru melalui 4 zona antara lain Pivot Zone, Go Zone, Check Zone, Wait Zone. Area perbaikan yang dilakukan oleh RS Sardjito dengan memisahkan layanan pasien non COVID-19 dan Pasien COVID-19 di seluruh lingkup pelayanan, pengendalian akses masuk melalui screening dan penandaan dengan stiker berwarna sesuai tingkat risiko pengunjung, dan Edukasi/Pelatihan staff sebelum ditugaskan ke pelayanan COVID-19. Pada konteks Surge Capacity, RSUP Sardjito tidak sekedar menambah ruangan, tetapi kapasitas. Strata surge capacity terbagi atas 3 yaitu kapasitas konvensional, kapasitas kontingensi, dan kapasitas krisis. Dalam konteks surge perlu memperhatikan 4 S yaitu Staffing, Space, Supplies dan System.

Secara umum Implementasi dimensi efektif, efisien, aman dan berkelanjutan di RSUP Sardjito antara lain 1) Pemisahan layanan non COVID-19 dan pasien COVID-19. Pada awal pandemi, pasien COVID-19 dilayani di ruang UGD yang kemudian dinilai sangat berbahaya sehingga dilakukan rekayasa zonasi; 2) APD dilakukan berdasarkan kewaspadaan standar dimana dilakukan berdasarkan analisis risiko, proses pelayanan yang dikerjakan dengan tetap memaksimalkan menjaga jarak dan menjaga kebersihan lingkungan;

Pembahas I: dr. Ketut Suarjaya, MPPM (Dinas Kesehatan Provinsi Bali)

Ketut menyampaikan arah kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan ini tidak terlepas dari akses dan kualitas pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta dengan penekanan pada penguatan pelayanan kesehatan dasar dan peningkatan upaya promotif dan preventif didukung oleh Inovasi dan pemanfaatan teknologi.

Isu strategis mutu pelayanan kesehatan antara lain 1) akses dan mutu pelayanan kesehatan; 2) ketersediaan dan kepatuhan terhadap standar mutu klinis dan keselamatan pasien; 3) budaya mutu di fasilitas kesehatan dan program; 4)peran dan pemberdayaan pasien keluarga dan masyarakat; 5) penguatan tata kelola struktur organisasi mutu dan sistem kesehatan lainnya; 6) komitmen Pemerintah Pusat, daerah dan pemangku kebijakan; dan 7) data indikator sistem informasi dan pengembangan pemanfaatannya.

Pelayanan di fasilitas kesehatan pada masa adaptasi kebiasaan baru tentunya harus meredesain fasilitas pelayanan melalui pengaturan alur layanan, pembagian zona resiko penularan COVID-19, penerapan prinsip PPI, pengembangan sistem inovasi pelayanan kesehatan dan penguatan rujukan di masa kenormalan baru. Redesign pelayanan dan fisik Rumah Sakit menghadapi pandemi COVID-19 yaitu 1) Memberikan pelayanan pada pasien COVID-19 dan non COVID-19 dengan menerapkan prosedur skrining triase dan tatalaksana kasus; 2) melakukan antisipasi penularan terhadap tenaga kesehatan dan pengguna layanan dengan penerapan prosedur pencegahan dan pengendalian infeksi, penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di unit kerja dan pemenuhan alat pelindung diri (APD); dan 3) menerapkan protokol pencegahan COVID-19.

Pembahas II: dr. Vierra Wardhani, M.Kes, Ph.D (Universitas Brawijaya Malang

Vierra menyatakan perlunya sistem manajemen mutu di organisasi dalam merespon pandemi COVID-19. Secara umum, dampak pandemi antara lain 1) adanya tantangan kapasitas cadangan dan burnout sistem; ketika ada banyak tuntutan sementara layanan kesehatan tidak siap merespon; 2) penurunan cakupan dan utilitas non COVID-19 karena adanya stigma dan ketakutan; 3) membuka kesadaran peluang, cara, dan perilaku baru untuk meningkatkan akses layanan kesehatan; dan 4) mendorong melakukan desain lebih bagus dan belajar secara cepat. Hal ini merupakan proses sistem manajemen dan peningkatan mutu.

Hasil penelitian dilihat dari temporal comparison menunjukkan pada awal pandemi COVID-19 khususnya di Indonesia terjadi penurunan kunjungan pasien baik di puskesmas hingga rumah sakit. Hal ini membutuhkan respon organisasi untuk melakukan perubahan yang sangat cepat dan pentingnya melakukan integrasi dan continuum of care. Pelayanan kesehatan primer sangat penting di era pandemi merupakan titik kontak pertama ketika penduduk mencari layanan kesehatan, dapat menjamin komprehensifitas layanan.

Terdapat 4 isu yang dihadapi layanan primer dalam masa “Adaptasi Kebiasaan baru” antara lain 1) pelayanan diberikan dengan telehealth; 2) menimbulkan kelompok vulnerable baru; 3) Perilaku pencarian pertolongan kesehatan yang berubah; dan 4) Kebutuhan co-worker support menghilangkan rasa takut. Pada situasi krisis maka yang paling penting adalah memastikan best possible patient outcome dengan menciptakan standar layanan baru.

Reporter: Candra, MPH